Monday, December 31, 2007

Firman untuk Pertumbuhan Rohani

Saat membaca renungan pagi ini, saya merasa terjamah sekaligus tertampar. Bukan karena saya telah melakukan suatu kesalahan yang besar, tetapi karena saya telah melakukan suatu kebodohan yang besar.

Renungan pagi ini menceritakan tentang seorang pendeta yang bernama George Muller. Dalam renungan yang saya baca tersebut dikatakan bahwa dia tidak menemui kesulitan dalam mengetahui kutipan mana yang berasal dari Alkitab dan kutipan mana yang bukan berasal dari Alkitab. Salah satunya yaitu kutipan yang berasal dari Ayub 5:7, “melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.” Dalam versi bahasa inggrisnya “Yet man is born to trouble as surely as sparks fly upward”. Kata-kata yang jarang saya baca. Bukan hanya jarang saya baca, namun mungkin saat membacanya, saya melakukannya dengan asal-asalan, sehingga saya sendiri tidak menyimak, hanya sekedar mengejar waktu menghabiskan bacaan Alkitab selama setahun.

Kalimat pertama dalam renungan tersebut cukup unik. Dia mempertanyakan kutipan mana yang berasal dari Alkitab. Beberapa kutipan yang disediakan sebagai pilihannya pun sering saya dengar. Namun demikian, saya menebaknya dengan salah. Saya lalu berpikir bahwa sebenarnya kita mendengar banyak hal yang baik namun kita sendiri tidak menyadari, bahkan mungkin kita tidak yakin, dari mana sumber kata-kata tersebut. Apakah kata-kata tersebut benar berasal dari Firman Tuhan, atau berasal dari pembelajaran kita akan kehidupan sehari-hari. Saya tidak mengatakan salah satu dari kedua sumber tersebut salah. Bagi saya, selama keduanya membawa kebaikan dan manfaat, itu sah-sah saja. Saya hanya berpikir bagaimana kita mengenal Bapa kita apabila kita sendiri tidak menyadari yang mana sebenarnya kata-kata dari-Nya.

George Muller membaca Alkitab sebanyak lebih dari 100 kali selama hidupnya. Saya berpikir, so what? Itu khan dia, mengapa kalian harus menyombongkan dia? Tapi setelah saya baca kelanjutan dari kalimat tersebut, saya merasa malu. Muller mengatakan bahwa dia mempunyai peraturan (bagi dirinya sendiri) untuk tidak memulai pekerjaannya sebelum dia memiliki waktu khusus dengan Bapa dan firmanNya. Dan berkat yang dia dapatkan pun indah.

Saya jadi berkaca pada diri sendiri. Seberapa banyak waktu yang telah saya luangkan bulan ini untuk lebih dekat dengan Bapa. Seberapa banyak waktu yang telah saya luangkan tahun ini untuk-Nya. Apakah saya telah mengenal Dia lebih dekat? Ataukah saya hanya merasa dekat tanpa mengenal Dia? Pertanyaan itu kemudian memenuhi pikiran saya.

Saya beranjak membaca paragraf selanjutnya dari renungan tersebut. Kata-katanya cukup menghibur saya. Di sana dikatakan “Kita tidak perlu merasa bersalah apabila kita tidak membaca sebanyak yang dilakukan oleh Muller. Tetapi marilah bersama-sama dengan saya membacanya paling sedikit satu kali pada tahun yang akan datang ini- bukan agar kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit tentang itu, tetapi karena Firman itu diberikan oleh Tuhan dan itu berguna untuk pertumbuhan rohani kita” (2 Timotius 6:16-17)

Bagi saya, renungan ini cukup manis. Dia mengatakan “Mari membaca Firman Tuhan, bukan agar kita dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan yang rumit, tetapi karena Firman itu berasal dari Tuhan dan itu baik untuk pertumbuhan rohani kita” Puji Tuhan! Firman itu baik untuk pertumbuhan rohani kita. Satu kalimat yang mungkin sederhana, tapi cukup membuat saya menyadari kebodohan saya selama ini.

Saat rohani bertumbuh, kita tidak perlu bingung bagaimana kita dapat mejawab pertanyaan orang lain. Saat rohani bertumbuh, kita tidak perlu bingung bagaimana membawa orang lain ke jalan yang benar. Saat rohani bertumbuh, kita tidak perlu mempermasalahkan hal-hal kecil yang muncul. Karena justru saat rohani kita bertumbuh, kita akan tahu sendiri bagaimana menghadapi saat – saat tersebut.

Tahun baru ini begitu banyak saudara saudara kita membuat resolusi mereka masing- masing. Mereka membuat perencanaan untuk pekerjaan, keluarga, pendidikan, bahkan mungkin pasangan hidup. Saya punya ide. Bagaimana jika kita membuat perencanaan untuk meluangkan 30 menit kita setiap pagi untuk menemui Dia dan membaca firmanNya?

Peace and love,


Icha


1 comment:

Step said...

huhuhu....

koko jarang luangin waktu buat DIA.

Tuhan ampuni aku orang berdosa ini..

Post a Comment

Hi!! Thank you for visiting my blog. I am very excited to read your comments. Make yourself at home.